Aku berlari menerobos Kegelapan,peluh menetes deras di sekujur tubuhku.Aku berada di tengah-tengah hutan yang sama sekali tidak aku kenal.Dan sialnya aku dikejar oleh seseorang atau sesuatu.Aku yakin dia bukan manusia.Kecepatannya melebihi batas normal dan dia mampu melompat dari pohon tinggi ke pohon lainnya.Sosok itu berhasil mendorongku hingga jatuh ke tanah,kuku-kukunya yang tajam menancap keras ke bahuku.Aku berteriak kesakitan,bau anyir menyeruak ke hidungku.Sungguh aku mual pada darahku sendiri tapi berbeda denganku sosok itu menyeringai menjilat tangannya yang berlumuran darahku.Ketika bulan satu-satunya cahaya yang ada di hutan ini menyinari sosoknya.Aku menatap ngeri,wajahnya putih pucat otot-otot bewarna biru bertonjolan di sekujur tubuhnya.Matanya hitam penuh seakan hanya lubang menganga di wajahnya.Monster itu menampakkan taring-taringnya yang bewarna kuning menjijikkan dan mengarahkannya tepat ke leherku.Tuhan apakah ini akhir hidupku..tubuhnya terlalu kuat,aku memberontak tetapi tidak ada gunanya.Aku menutup kedua mataku.
“Grawwwrrr….Bruakk.”Aku mendengar suara benda berdebam keras.Kubuka kedua mataku.Aku melihat monster itu ambruk menimpa pohon.Sesosok punnggung manusia berdiri di depanku.Monster itu bangun dan berlari kencang ke arahnya.
“Awas!!”Aku berteriak ketakutan.Tetapi sosok itu seketika melompat dengan lincah.Posisinya membelakangi lawan sebelum monster itu menyadari kehadirannya.Tangannya memeluntir leher monster itu hingga putus.Aku menjerit ngeri melihat tubuh monster tanpa kepalanya lagi memuncratkan darah merah kehitaman sebelum akhirnya jatuh ke atas tanah.Laki-laki(aku tahu jenis kelamin dari postur tubuhnya)itu membersihkan kedua tangannya ke atas jubah hitam yang melekat di tubuhnya.Sinar bulan jatuh menyorot tubuhnya.Tetapi yang bisa kulihat hanya kedua matanya yang bewarna merah.Dia bersiap pergi.
“Tunggu..siapa namamu?”Tanyaku spontan.Tetapi dia tidak menjawab..Zrrrat tiba-tiba sepasang sayap hitam keluar dari tubuhnya.Aku terbelalak takjub.
“Kau akan tahu nanti ketika saatnya tiba.”Kata laki-laki itu dengan suara berat yang mengesankan.Dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan terbang pergi.
Tokk…tokkk…Tokkk suara pintu membangunkan aku.Terdengar suara Mom dari balik pintu.”Honey bangun sayang”.Aku merasakan keringat menetes deras bahkan bantalku sudah basah olehnya.Aku berusaha mengumpulkan nyawa dan mengingat mimpi menyeramkan tadi.
“Ella…Honey,,bangun.”Suara Mom menyiratkan ancaman.Dengan malas aku meraih kenop pintu.Terlihatlah ibuku,wanita cantik di usianya yang 45 tahun.Rambut pirangnya ia biarkan tergerai.Mom memelukku dan berseru girang.”Happy Birthday Ella.”
“Mom bukankah aku sudah bilang kemarin.”Kataku masam.Mom melepas pelukannya dan menatapku lekat-lekat.
“Ella harusnya kau gembira.Umur 18 kan hanya terjadi sekali seumur hidup.”
“Begitu juga dengan umur 16,17 tidak ada bedanya.”Ucapku sarkastis.
“Nah apa yang kau inginkan Ella sebagai kado ulang tahun?”Mom berusaha tidak mendengar ucapanku.Hari Senin pelajaran Psikologi persepsi yang membosankan.
“Boleh aku bolos sekolah?”Tanyaku penuh harap.Mom menautkan alisnya,meski dia ibu yang lemah lembut tapi dia sangat disiplin soal ini.
“Lebih baik kau mandi dan turun untuk sarapan.”Katanya tegas.
“Ugh Oke.”Aku tahu ini tidak akan berhasil tapi bolehkan setidaknya aku mencoba.Aku mandi dengan cepat dan turun untuk sarapan.Nick adikku sudah nengkring di meja makan menikmati roti selainya.
“Awwepy Birtdway Sist.”Ucapnya tidak jelas karena mulutnya masih penuh dengan roti.
“Nick kau sama saja seperti mom.Kan aku sudah bilang kemarin jangan ucapkan hal bodoh itu.”Kataku mengerang kesal.Menjatuhkan badanku ke kursi dan mengambil beberapa roti bakar.Nick adalah kembaranku lebih muda beberapa menit dariku.
“Tidak aku beda dengan mom.Mom mengatakan itu karena sayang padamu kalau aku mengatakan itu untuk membuatmu kesal.”Katanya ringan.Aku menatap garang padanya tapi Nick langsung mengalihkan pandangan.”Kusobek mulutmu tahu rasa.”Geramku kesal.Nick menjulurkan lidah padaku.Aku sudah siap melemparkan jitakan ke kepalanya tetapi Mom datang dengan muka tak kalah kesal.”Jangan ada keributan di meja makan.”Perintahnya,terpaksa kusimpan hadiah kecilku ini.